Membaca pola simbol pada Mahjong Ways kompleks sering terasa seperti melihat anyaman: indah, tetapi mudah membuat mata “tertipu” bila tidak dipetakan. Di sinilah konsep grid structure mapping membantu—yakni cara memetakan hubungan baris dan kolom agar pergerakan simbol, arah koneksi, serta kemungkinan rangkaian kemunculan bisa dipahami lebih terstruktur. Alih-alih menebak-nebak, pendekatan ini mengubah layar menjadi peta koordinat yang dapat dianalisis dengan kebiasaan yang rapi namun tetap fleksibel.
Langkah awalnya adalah mengubah tampilan menjadi koordinat sederhana: baris (R) dan kolom (K). Misalnya, R1 berarti baris paling atas, R2 di bawahnya, dan seterusnya. Kolom dibaca dari kiri ke kanan: K1, K2, K3, dan seterusnya. Dengan begitu, satu simbol tidak lagi “sekadar muncul”, melainkan memiliki alamat, contohnya R3-K2. Teknik ini berguna saat Anda ingin menandai area yang sering menjadi titik temu pola, terutama ketika kombinasi simbol terbentuk melalui koneksi tertentu di sepanjang kolom.
Daripada memetakan per baris dulu atau per kolom dulu, gunakan skema simpul-jembatan. “Simpul” adalah sel grid yang sering menjadi titik singgung pola (misalnya simbol yang berulang atau simbol bernilai tinggi), sedangkan “jembatan” adalah jalur yang menghubungkan simpul-simpul tersebut. Anda menandai simpul dengan kode S (S1, S2, S3) dan jembatan dengan kode J (J-A, J-B). Contoh: bila R2-K3 dan R4-K3 sering memunculkan simbol serupa, maka kolom K3 dapat dianggap sebagai “jembatan vertikal” yang mengikat dua simpul. Pemetaan seperti ini terasa tidak lazim karena fokusnya bukan pada urutan tampilan, melainkan pada “titik pengikat” yang membentuk jaringan.
Hubungan antarbaris bisa dibaca sebagai ritme: baris atas cenderung memberi “pembuka”, baris tengah memberi “penguat”, dan baris bawah sering menjadi “penentu” karena ia menutup rangkaian visual. Dalam grid mapping, Anda dapat membuat catatan relasi horizontal: R1 ↔ R2 (apakah pola simbol sering menurun?), R2 ↔ R3 (apakah ada pengulangan jenis simbol?), dan R3 ↔ R4 (apakah kemunculan simbol tinggi bergerak ke bawah?). Ini bukan aturan baku, melainkan cara membuat pola kecil yang mudah dipantau dari sesi ke sesi.
Kolom lebih mudah dianalisis karena ia menampung “jejak vertikal”. Ketika simbol tampak menumpuk di kolom tertentu, Anda bisa menandainya sebagai kolom dominan (KD). Contoh: bila K2 sering memuat simbol yang sama di dua baris berdekatan, tandai sebagai KD-2. Lalu Anda periksa tetangga dekatnya: K1 dan K3. Dalam pemetaan kompleks, pola yang menarik justru sering muncul di “kolom satelit”, yaitu kolom yang tidak dominan tetapi sering menjadi penghubung. Dengan cara ini, Anda tidak hanya fokus pada kolom yang ramai, tetapi juga pada kolom yang berperan sebagai jalur transisi.
Banyak orang melupakan diagonal karena terbiasa membaca lurus. Padahal, pada tampilan yang padat, mata manusia sering menangkap kesamaan simbol secara diagonal lebih cepat daripada secara baris-kolom. Buatlah aturan diagonal sederhana: D1 untuk diagonal kiri-atas ke kanan-bawah, D2 untuk kanan-atas ke kiri-bawah. Jika sebuah simbol bernilai tinggi muncul di R1-K1 lalu terlihat lagi di R2-K2 dan R3-K3, Anda bisa menandai pola itu sebagai D1 aktif. Dengan “diagonal tracking”, Anda memperoleh lapisan analisis tambahan yang terasa lebih organik, seolah membaca motif kain daripada tabel.
Agar grid structure mapping tidak berubah menjadi pekerjaan berat, gunakan log mikro berformat ringkas: tanggal/sesi, KD, simpul (S), dan diagonal aktif. Contoh catatan: “Sesi A: KD-3, S1=R2-K3, S2=R4-K3, D1 aktif.” Catatan singkat seperti ini membantu Anda membandingkan kecenderungan kemunculan simbol tanpa harus menyimpan tangkapan layar atau menulis panjang. Di sinilah skema simpul-jembatan terasa berguna, karena Anda cukup mencatat hubungan, bukan seluruh isi grid.
Ketika baris, kolom, dan diagonal sudah Anda petakan, langkah berikutnya adalah mengubahnya menjadi narasi pola: “kolom dominan membangun jembatan, simpul muncul berulang, diagonal mengikat pengulangan.” Narasi ini membuat Anda lebih peka terhadap perubahan kecil, misalnya saat KD berpindah dari K3 ke K5, atau ketika diagonal yang biasanya aktif tiba-tiba “putus”. Dengan begitu, hubungan baris dan kolom tidak lagi terlihat acak, melainkan menjadi struktur yang bisa Anda baca seperti peta: ada wilayah padat, jalur penghubung, dan titik simpul yang menentukan arah perhatian.