Kajian dan studi literatur yang mengulas pola adalah cara kerja akademik untuk membaca ulang pengetahuan yang sudah ada, lalu menyusunnya menjadi peta yang rapi: pola apa yang berulang, kapan pola berubah, dan mengapa pergeseran itu terjadi. “Pola” di sini tidak selalu berbentuk angka; ia bisa berupa kebiasaan metodologis, tema yang dominan, istilah yang sering muncul, hingga cara peneliti menarik kesimpulan. Dengan menelusuri pola, studi literatur membantu peneliti menghindari riset yang berputar di tempat dan mengarahkan energi pada celah pengetahuan yang benar-benar penting.
Dalam konteks kajian literatur, pola adalah keteraturan yang muncul dari kumpulan sumber. Keteraturan itu bisa tampak pada level mikro, misalnya variabel yang sering dipasangkan (motivasi–kinerja, kualitas layanan–kepuasan), atau pada level makro, seperti dominasi teori tertentu dalam satu dekade. Pola juga dapat berupa “ketidakteraturan yang berulang”, misalnya banyak studi melaporkan hasil berbeda karena pengukuran variabel tidak seragam. Saat peneliti menyadari adanya pola semacam ini, ia tidak hanya merangkum isi artikel, tetapi juga mengkritik struktur pengetahuan yang dibangun komunitas ilmiah.
Studi literatur yang kuat biasanya dimulai dari pertanyaan riset yang jelas, lalu diterjemahkan menjadi kata kunci dan sinonimnya. Pola yang dicari akan bias jika sumber yang diambil tidak seimbang, misalnya hanya dari satu database atau satu bahasa. Karena itu, strategi pencarian perlu dirancang seperti “jaring”: mencakup istilah utama, istilah turunan, serta istilah yang sering dipakai lintas disiplin. Pada tahap ini, peneliti mulai mencatat pola paling awal: kata kunci mana yang produktif, topik mana yang miskin publikasi, dan area apa yang penuh debat.
Alih-alih memakai skema klasik “tema A–tema B–tema C”, Anda bisa menggunakan pendekatan ritme. Pertama, identifikasi “ketukan” (apa yang paling sering dibicarakan). Kedua, cari “jeda” (apa yang jarang dibahas atau sengaja dihindari). Ketiga, amati “aksen” (temuan yang menonjol dan mengubah arah diskusi). Skema ini membuat ulasan pola lebih hidup karena fokusnya bukan hanya kategori, tetapi juga dinamika: bagaimana satu ide menguat, memudar, lalu muncul kembali dalam bentuk baru.
Untuk menahan godaan sekadar menceritakan ulang isi artikel, peneliti perlu alat ekstraksi. Matriks literatur adalah yang paling praktis: kolom berisi penulis-tahun, tujuan, teori, metode, sampel, temuan, dan keterbatasan. Dari matriks ini, pola mulai terlihat: metode apa yang dominan, populasi mana yang berulang, instrumen mana yang “dipinjam” dari studi sebelumnya. Pengkodean tematik juga membantu, terutama saat sumbernya kualitatif; Anda menandai kalimat kunci, memberi kode, lalu mengelompokkan kode menjadi tema. Untuk menjaga ketelitian, setiap klaim pola sebaiknya disertai penandaan bukti: artikel mana yang mendukung, artikel mana yang menyanggah.
Banyak studi literatur mengulas pola tematik, tetapi melewatkan pola metodologis. Padahal, pola metodologis sering menjelaskan mengapa temuan tampak “tidak konsisten”. Contohnya, bidang tertentu mungkin terlalu bergantung pada survei cross-sectional sehingga sulit menangkap perubahan dari waktu ke waktu. Atau, ukuran sampel kecil berulang sehingga hasil tampak dramatis namun rapuh. Ulasan yang mengulas pola metodologis akan memetakan desain penelitian, teknik analisis, cara validasi instrumen, hingga praktik pelaporan (apakah transparan, apakah menyertakan data pendukung).
Istilah yang sama tidak selalu berarti konsep yang sama. “Keterlibatan” dapat dipakai untuk engagement karyawan, engagement pelanggan, atau keterlibatan belajar. Studi literatur yang mengulas pola konsep akan mencatat definisi yang dipakai masing-masing penulis, lalu membandingkannya. Dari situ, muncul pola pergeseran definisi: konsep mengembang, menyempit, atau bercabang. Di banyak bidang, pola kebingungan konsep juga muncul ketika istilah populer dipakai sebagai payung untuk fenomena berbeda. Mengulas pola seperti ini membuat pembaca paham mengapa diskusi akademik kadang terasa tidak saling bertemu.
Setelah pola terkumpul, tantangannya adalah menyusun narasi yang mudah dibaca dan sesuai kaidah Yoast: paragraf pembuka yang jelas, subjudul informatif, kalimat tidak terlalu panjang, dan kata kunci “kajian dan studi literatur yang mengulas pola” muncul alami di beberapa bagian. Narasi yang kuat biasanya bergerak seperti ini: tampilkan pola dominan, tunjukkan variasi dan pengecualian, lalu ungkap celah yang spesifik. Celah yang baik bukan sekadar “masih sedikit penelitian”, melainkan “masih sedikit penelitian pada konteks X dengan metode Y dan definisi Z”. Dengan begitu, studi literatur tidak berhenti sebagai ringkasan, tetapi menjadi alat navigasi ilmiah.
Pola bisa menipu jika peneliti hanya melihat apa yang ingin dilihat. Karena itu, validasi penting: cek apakah pola bertahan ketika sumber diperluas, apakah ada bias publikasi (hasil positif lebih mudah terbit), dan apakah ada artikel kunci yang luput. Cara sederhana adalah melakukan pengecekan balik: ambil beberapa artikel yang paling berpengaruh, telusuri rujukannya (backward search), lalu lihat siapa yang mengutipnya (forward search). Jika pola tetap konsisten setelah langkah ini, kemungkinan besar pola tersebut bukan kebetulan.